Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 1982
TENTANG PERUBAHAN BATAS WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PASURUAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
:
a.
bahwa berhubung dengan itu, perlu diadakan perubahan batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dengan memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan;
b.
bahwa Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan telah menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari daerahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan;
c.
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka perubahan batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dan wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dalam lingkungan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur perlu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
Mengingat
:
1.
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2.
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Timur jo. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1950;
3.
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur;
4.
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah- daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Dalam Daerah Istimewa Yogyakarta, jo. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Kecil Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat;
5.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);
MEMUTUSKAN:
menetapkan
:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN BATAS WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PASURUAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dan Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan adalah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dan Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB II
PERUBAHAN BATAS WILAYAH
Pasal 2
(1)
Batas-batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan diubah dengan memasukkan sebagian dari wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan yaitu :
a.
Sebagian wilayah Kecamatan Pohjentrek yang meliputi :
1.
Desa Pohjentrek;
2.
Desa Gentong;
3.
Desa Sabani;
4.
Desa Wirogunan
5.
Desa Bukir;
6.
Desa Petaunan;
7.
Desa Randusari;
b.
Sebagian wilayah Kecamatan Gondang Wetan yang meliputi :
1.
Desa Tambakrejo;
2.
Desa Sangkargadung;
c.
Sebagian wilayah Kecamatan Kraton yaitu : Desa Karangketug.
d.
Sebagian wilayah Kecamatan Rejoso yang meliputi :
1.
Desa Kepel;
2.
Desa Tapaan;
3.
Desa Bakalan;
4.
Desa Blandongan; sehingga batas wilayah Kotamadya, Daerah Tingkat II Pasuruan menjadi sebagaimana terdapat pada peta terlampir.
(2)
Wilayah Kecamatan Pohjentrek, wilayah Kecamatan Gondang Wetan, wilayah Kecamatan Kraton dari wilayah Kecamatan Rejoso dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dikurangi dengan desa-desa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 3
Untuk terwujudnya tertib pemerintahan serta pembinaan wilayah, maka wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dibagi dalam 3 (tiga) wilayah kecamatan, yaitu :
a.
Kecamatan Gadingrejo, yang terdiri dari :
1.
Desa Karangketug;
2.
Kelurahan Gadingrejo;
3.
Kelurahan Tamban;
4.
Kelurahan Trajang;
5.
Desa Gentong;
6.
Kelurahan Karanganyar;
7.
Desa Sabani;
b.
Desa Petaunan; 9. Desa Bukir; 10. Desa Randusari; 11. Desa Krapyakrejo; b. Kecamatan Purworejo, yang terdiri dari :
1.
Kelurahan Ngemplakrejo;
2.
Kelurahan Mayangan;
3.
Kelurahan Bangilan;
4.
Kelurahan Kebonsari;
5.
Kelurahan Purworejo;
6.
Kelurahan Kebonagung;
7.
Desa Pohjentrek;
8.
Desa Wirogunan;
9.
Kelurahan Purutrejo;
10.
Desa Tambakrejo;
c.
Kecamatan Bugul Kidul, yang terdiri dari :
1.
Desa Blandongan;
2.
Desa Kepel;
3.
Desa Tapaan;
4.
Kelurahan Panggungrejo;
5.
Kelurahan Mandaranrejo;
6.
Kelurahan Bugul Lor;
7.
Kelurahan Kandangsari;
8.
Kelurahan Bugul Kidul;
9.
Kelurahan Pakuncen;
10.
Kelurahan Petamanan;
11.
Kelurahan Krampayangan;
12.
Desa Sekargadung;
13.
Desa Bakalan;
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 4
(1)
Pusat pemerintahan Kecamatan Gadingrejo berkedudukan di Gadingrejo.
(2)
Pusat pemerintahan Kecamatan Purworejo berkedudukan di Purworejo.
(3)
Pusat pemerintahan Kccamatan Bugul Kidul bcrkedudukan di Bugul Kidul.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB III
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 5
(1)
Semua Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah Tingkat II Pasuruan yang berlaku bagi desa-desa yang sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini termasuk dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan tersebut, sesudah berlakunya Peraturan Pemerintah ini tetap berlaku bagi desa-desa dimaksud sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa Peraturan Pemerintah ini.
(2)
Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini dapat diubah atau dicabut oleh Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan.
(3)
Masalah yang menyangkut bidang kepegawaian, keuangan, peralatan, kependudukan, penghasilan daerah, dan lain-lain yang timbul sebagai akibat perubahan batas-batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah ini diselesaikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur atas nama Menteri Dalam Negeri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 6
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, semua Peraturan yang mengatur batas-batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dan wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas
Pasal 7
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, diatur lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Pasal 8
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Penjelasan Pasal:
Cukup jelas.
Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 21 Desember 1982
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd
SOEHARTO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 21 Desember 1982
MENTERI/SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
ttd
SUDHARMONO, S.H.
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1982 NOMOR 73
Penjelasan Umum
1. Dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 telah dibentuk Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur antara lain Kabupaten Pasuruan yang pada waktu ini disebut Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan dan dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950 telah dibentuk Kota-kota kecil di Jawa antara lain Kota Kecil Pasuruan yang pada waktu ini disebut Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan, dalam lingkungan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.
2. Dalam kenyataannya pada waktu sekarang ini perkembangan kegiatan sosial ekonomi di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur pada umumnya dan di Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan pada khususnya meningkat dengan pesat, terutama dalam bidang pembangunan.
3. Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan terbentur pada masalah-masalah tersedianya areal tanah untuk pembangunan, mengingat wilayahnya yang relatif cukup padat, sehingga tidak ada lagi persediaan tanah untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan bagi terciptanya penataan lingkungan kehidupan perkotaan yang layak.
4. Berhubung dengan itu maka sudah saatnya bila wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan tersebut diperluas, sehingga dengan demikian terciptalah keadaan yang memungkinkan untuk mengadakan fasilitas dan utilitas perkotaan yang layak, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat Kotamadya Daerah tingkat II Pasuruan.
5. Untuk maksud perluasan wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan tersebut ditempuh dengan memasukkan ke dalam wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan sebagian dari wilayah yang dipindahkan dari Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan yang meliputi 1 (satu) desa dari Kecamatan Kraton, 8 (delapan) desa dari Kecamatan Pohjentrek, 2 (dua) desa dari Kecamatan Gondang Wetan, dan 4(empat) desa dari Kecamatan Rejoso.
Pemisahan desa-desa tersebut dari wilayah Kebupaten Daerah Tingkat II Pasuruan untuk dimasukkan ke dalam wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan telah disetujui oleh kedua Pemerintah Daerah yang bersangkutan seperti dinyatakan dalam :
a. Surat Keputusan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan Nomor DPRD 022/119/1979 tanggal 24 Maret 1979 dan Nomor DPRD 022.2/11/1979 tanggal 14 Juni 1979.
b. Surat Keputusan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan Nomor DPRD.041/30/1979 tanggal 9 Juni 1979 dan Nomor DPRD 041/32/1979 tanggal 15 Juni 1979.
6. Dengan perubahan batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan tersebut, maka Peraturan Daerah serta Keputusan Kepala Daerah Tingkat II Pasuruan masih tetap berlaku bagi wilayah desa-desa yang sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini termasuk dalam wilayah kabupaten Daerah Tingkat II Pasuruan, sampai peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan tersebut diubah atau dicabut oleh Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan.
7. Bilamana timbul kesulitan dalam pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini, maka penyelenggaraannya diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri.
Paper Terkait
Belum ada paper terkait untuk peraturan ini.
Berita Terkait
19 Okt 2026
Aksi Pencambukan di KPPG Bogor, Korwil SPPG Purwakarta Dicopot dan Disidang Etik
Koordinator Wilayah SPPG Purwakarta diduga mencambuk Kepala SPPG Purwakarta di area Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor pada 14 Oktober 2026, dan rekamannya viral di media sosial. Terduga pelaku sudah dicopot dari jabatannya, sedangkan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadwalkan sidang etik di kantor pusat pada 19 Oktober 2026.
Prabowo Lantik 26 Anggota Wantimpres, Terbanyak dalam Sejarah
Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026, jumlah terbanyak sepanjang sejarah lembaga itu. Jumlah tersebut dimungkinkan oleh UU Nomor 64 Tahun 2024, yang menghapus batas sembilan anggota dalam aturan sebelumnya.
Penggunaan AI menjadi tantangan baru bagi Pemilu 2029 karena deepfake dapat digunakan untuk menyebarkan disinformasi dan memanipulasi pemilih. Fenomena ini telah terjadi di Taiwan pada Pemilu 2024, sementara aturan Pemilu Indonesia belum secara spesifik mengatur konten politik berbasis AI. Karena itu, diperlukan AI disclosure melalui pelabelan konten yang dibuat atau dimodifikasi secara material menggunakan AI, demi menjamin transparansi bagi pemilih.
PPPK dan Honorer Tak Boleh Diberhentikan, DPR-Pemerintah Sepakati Relaksasi Belanja Pegawai
Komisi II DPR bersama pemerintah menyepakati bahwa Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), PPPK Paruh Waktu, dan honorer yang telah diangkat tidak boleh diberhentikan. Kesepakatan ini berlaku meski daerah terbentur batas belanja pegawai 30 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebagai jalan keluar, masa transisi penerapan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah akan diperpanjang melalui Undang-Undang APBN.
Nasib PPPK dan Revisi UU ASN Jadi Sorotan, DPR Dorong Pembiayaan lewat APBN dan Pemerintah Terikat Putusan MK
Persoalan status dan pembiayaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) serta PPPK Paruh Waktu di daerah kembali mengemuka. DPR mendorong agar pembiayaannya dilakukan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekaligus memperkuat desakan revisi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN). Pada saat bersamaan, pemerintah terikat dua putusan Mahkamah Konstitusi, yaitu kewajiban membentuk lembaga pengawas sistem merit yang independen dan prioritas pengangkatan guru honorer menjadi PPPK.
Harap baca dan setujui ketentuan penggunaan sebelum melanjutkan.
Peta Hukum adalah platform informasi dan teknologi hukum.
Informasi yang tersedia bukan nasihat hukum profesional dan tidak menggantikan konsultasi dengan advokat atau sumber resmi pemerintah.
Anda tetap bertanggung jawab untuk memverifikasi informasi melalui sumber resmi sebelum menggunakannya
untuk kepentingan hukum, akademik, administratif, atau pengambilan keputusan lainnya.
Penting:
Tindakan mengklik tombol persetujuan merupakan bentuk pernyataan kehendak yang sah dan mengikat secara hukum.
Persetujuan tersebut memiliki kekuatan hukum yang setara dengan tanda tangan basah pada dokumen tertulis sehingga menimbulkan hubungan kontraktual antara Pengguna dan Perusahaan.